Siapa yang Mengelola Pengetahuan?
Salah satu kesalahpahaman yang menurut penulis sangat mendasar dalam perkembangan profesi informasi adalah pada istilah "mengelola informasi" (information management) yang dilekatkan kepada profesi-profesi seperti pustakawan, dokumentalis, arsiparis, dan manajer rekod. Istilah informasi di sini selalu bermakna kebendaan, sesuatu yang mati, berhenti, "sudah selesai". Mengelola informasi seringkali dikaitkan dengan mengelola benda yang di dalamnya mengandung informasi, baik berupa buku, kliping, dokumen bisnis, disket, website, dan sebagainya yang adalah benda-benda mati.Kesalahpahaman itu bahkan berlanjut ketika teknologi informasi dan komputerisasi sudah mulai merasuk ke semua bidang kehidupan. Banyak sekali harapan yang berlebihan, banyak sekali dana ditumpahkan, yang akhirnya hanya untuk memperkuat pandangan tradisional tentang pengelolaan informasi. Teknologi dijadikan alat untuk kodifikasi pengetahuan (mengubah pengetahuan menjadi kode yang tertampak, baik dalam bentuk teks maupun lainnya) dan konsentrasinya pun lebih kepada bentuk-bentuk eksplisit, alias explicit knowledge. Seolah-olah, jika pengetahuan sudah dikodifikasi, sudah dibuat eksplisit, maka selesailah sudah persoalan.
Merebaknya fenomena manajemen pengetahuan (knowledge management) merupakan kritik langsung terhadap kesalahpahaman tentang manajemen informasi dan teknologi informasi tersebut. Fenomena manajemen pengetahuan dapat dilihat sebagai keinginan mengembalikan hakikat "pengetahuan" dan menghindari pandangan bahwa pengetahuan adalah benda mati. Di dalam kehidupan berorganisasi, baik untuk bisnis maupun non-bisnis, maka pengetahuan selalu dikaitkan dengan potensi nilai yang ada pada berbagai komponen atau proses (aliran) keseluruhan "modal" dalam organisasi tersebut. "Modal" di sini tentu saja bukan hanya soal investasi dan uang, tetapi juga "modal sosial" (social capital) sebagaimana yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya. Pengetahuan selalu dikaitkan dengan upaya meningkatkan nilai modal tersebut dan penerapan potensi tersebut pada tugas-tugas organisasi sehari-hari.
Para proponen manajemen pengetahuan selalu menegaskan bahwa sebuah organisasi seharusnya tidak berhenti pada "memiliki pengetahuan" dalam arti menimbun tumpukan dokumen yang dilengkapi dengan alat temu-kembali. Persoalan terpenting yang dihadapi organisasi-organisasi moderen saat ini adalah: bagaimana mengintegrasikan timbunan pengetahuan eksplisit itu ke dalam keseluruhan kemampuan dan kegiatan organisasi. Dalam kondisi dunia yang amat-sangat dinamis ini, maka integrasi pengetahuan eksplisit ke dalam kemampuan organisasi menjadi rumit. Organisasi dituntut fleksibel, tetapi sekaligus konsisten, dan juga punya "akar" yang kokoh dalam bentuk kompetensi inti (core competency).
Di dalam aktivitas setiap organisasi, maka tidak dapat dihindari bahwa pengetahuan yang diperlukan adalah pengetahuan yang tertanam di dalam diri masing-masing pribadi dan juga yang tercakup dalam kerjasama antar pribadi. Semua ini bukan pengetahuan eksplisit, melainkan pengetahuan tacit. Terlebih lagi, pengetahuan ini menjadi dinamis sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia eksternal maupun internal dari sebuah organisasi. Setiap perubahan eksternal (misalnya perubahan harga BBM, demonstrasi buruh, terorisme) akan segera direspon oleh sebuah organisasi, sedemikian rupa sehingga hanya organisasi yang fleksibel lah yang dapat mengambil langkah-langkah tepat. Nah, inilah urusan manajemen pengetahuan, yaitu bagaimana mengelola dinamika penggunaan pengetahuan tacit yang terintegrasi dengan pengetahuan eksplisit.
Secara khusus, maka pengelolaan pengetahuan memerlukan pegawai-pegawai yang mengerti dinamika organisasi, termasuk dinamika kompetensi sumberdaya manusia. Belum ada profesi yang secara khusus dibentuk untuk memenuhi keperluan pegawai-pegawai ini. Berbagai profesi yang datang dari berbagai disiplin, misalnya "orang komputer", psikolog, dan manajer SDM, kini melakukan kegiatan-kegiatan pengelolaan pengetahuan. Sebenarnya, yang lebih dahulu sudah terlibat dalam urusan-urusan informasi adalah pustakawan dan pekerja informasi (arsiparis, manajer rekod, dan sebagainya). Banyak harapan yang ditumpukan kepada profesi ini. Harapan ini kemudian diterjemahkan menjadi tuntutan terhadap kompetensi-kompetensi tambahan, selain kompetensi yang sudah selama ini dikuasai oleh pustakawan dan pekerja informasi.
Secara ringkas, tuntutan yang berkembang bagi pustakawan dan pekerja informasi untuk mengelola pengetahuan mencakup lebih dari selusin hal, misalnya:
- Analisis dan identifikasi proses kerja / bisnis dalam organisasi
- Pemahaman tentang proses pengetahuan di dalam proses kerja
- Pemahaman nilai, konteks, dan dinamika pengetahuan dan informasi
- Identifikasi, penciptaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan aset pengetahuan
- Pemetaaan aliran pengetahuan
- Manajemen perubahan
- Pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung pemanfaatan pengetahuan
- Pemahaman tentang komunitas kerja untuk memperoleh dukungan dan kerjasama
- Manajemen proyek
- Strukturisasi dan arsitektur informasi
- Manajemen aliran dokumen dan informasi
- Pemahaman tentang prinsip-prinsip manajemen informasi
- Pemahaman tentang proses publikasi
- Pemahaman tentang perkembangan potensi teknologi informasi
Sebagian besar dari tuntutan kompetensi di atas memerlukan kemampuan berpikir abstrak dan melakukan analisis yang cukup rumit. Berita baiknya adalah: pustakawan dan pekerja informasi pada dasarnya sudah memiliki kemampuan dasar tersebut karena tradisi mereka dalam menghimpun dan menyediakan informasi di dalamnya mengandung proses abstrak dan kodifikasi yang tidak sederhana.
Jadi, sebenarnya dalam "perlombaan" menguasai profesi mengelola pengetahuan, para pustakawan dan pekerja informasi sudah dapat mencuri start. Tentu saja, asal mereka sadar akan kelebihan-kelebihan itu.
